Hukum mempelajari tajwid adalah fardhu kifayah — artinya jika ada seseorang sudah menguasai ilmu tersebut, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Namun dalam praktek ilmu tajwid itu sendiri merupakan fardhu ain — wajib bagi setiap orang menerapkan cara membaca yang baik dan benar sesuai kaidah tajwid.
Secara bahasa: at-tahsîn — Memperbaiki. Secara istilah: memberikan Haq (makhroj) dan Mustahaq (sifat-sifat tambahan) pada Huruf Hijaiyah, dengan tujuan menjaga lisan dari kesalahan dalam membaca Al-Qur'an.
Membaca dengan perlahan dan tenang, mentadabburi maknanya, dan memperhatikan tajwidnya. Ini adalah cara yang paling utama (afdhol).
Membaca dengan intonasi sedang antara tartil dan hadr, tetap memperhatikan tajwid.
Membaca dengan cepat dengan tetap memperhatikan hukum-hukum tajwid.
Membaca dengan lambat dan detail pada hukum tajwidnya. Hanya digunakan pada saat belajar.
Nun Sukun (النُّوْنُ السَّاكِنَةُ) adalah huruf nun mati yang tidak memiliki harakat, ditulis dan dibaca dalam keadaan washal maupun waqaf.
Tanwin (التَّنْوِيْنُ) adalah bacaan huruf nun mati yang tidak ditulis sebagaimana nun sukun, dan hanya dibaca ketika washal saja.
Dibaca jelas — terjadi bila bertemu 6 huruf halq (tenggorokan)
Melebur — terjadi bila bertemu 6 huruf yang tersusun dalam يَرْمُلُوْنَ
Membalik/merubah menjadi mim — terjadi bila bertemu huruf Baa' (ب)
Menyamarkan — terjadi bila bertemu 15 huruf ikhfa' yang tersisa
Secara bahasa: al-wudhûh wal-kashf — Jelas. Secara istilah: mengeluarkan huruf tanpa disertai Ghunnah. Dinamakan idzhar halqiy karena semua hurufnya keluar dari tenggorokan (الْحَلْقُ). Jauhnya makhraj huruf nun dari huruf-huruf ini menyebabkan dibaca jelas.
Secara bahasa: al-idkhâl — Meleburkan. Secara istilah: meleburkan huruf sukun ke dalam huruf berharakat setelahnya atau di-tasydid-kan. Idgham hanya terjadi pada 2 kata yang terpisah.
Huruf-hurufnya tersusun dalam kata يَرْمُلُوْنَ yaitu: ي، ر، م، ل، و، ن.
Melebur disertai ghunnah pada huruf: ي، ن، م، و
Melebur tanpa ghunnah pada huruf: ل، ر (Laam dan Raa' dengan takrir)
Apabila nun mati bertemu dengan waw atau ya' dalam satu kata, dibaca jelas. Hanya pada 4 kata ini:
Secara bahasa: at-tahwîl — Menukar/Merubah. Secara istilah: menukar nun mati atau tanwin menjadi mim sukun (lafadznya saja, bukan tulisannya), dengan disertai ghunnah dan samar. Hurufnya hanya Baa' (ب) saja, terjadi pada satu atau dua kata.
Secara bahasa: as-satr — Menyembunyikan. Mengucapkan nun mati/tanwin pada keadaan antara jelas dan melebur, disertai ghunnah tanpa mentasydidkan huruf. Terjadi pada satu atau dua kata.
Huruf: ت، د، ط — Contoh: عَن طَبَقٍ
Huruf: ق، ك — Contoh: مِنكُمْ
Sisa huruf yang 11 — Contoh: زَنجَبِيلًا
Mim dan nun yang bertasydid terjadi pada isim, fi'il, dan harf — di tengah atau di akhir kata. Hukum bacaannya wajib menyertakan ghunnah 2 harakat dalam keadaan washal dan waqaf.
Ghunnah paling sempurna — takaran 2 harakat
مِنْ نِعْمَةٍ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ إِنَّ ثُمَّMim Sukun adalah huruf mim yang tidak memiliki harakat. Tanda sukunnya tidak berubah pada washal maupun waqaf. Terjadi pada isim, fi'il, huruf, di tengah kata maupun di akhirnya.
Mengucapkan mim mati dalam keadaan antara idzhar dan idgham, disertai ghunnah tanpa tasydid. Hurufnya Baa' (ب) saja — apabila mim mati bertemu Baa' di awal kata selanjutnya. Dinamakan syafawi karena berhubungan dengan bibir dalam pengucapannya.
Yaitu memasukkan mim mati di akhir kata pertama ke dalam mim berharakat di awal kata kedua, seolah 2 huruf tersebut adalah 1 huruf bertasydid. Hurufnya hanya Mim (م) saja — dinamakan mitslaini shoghir.
Apabila mim mati bertemu dengan huruf selain Baa' (ب) dan Mim (م), maka dibaca jelas — dalam satu kata maupun dua kata. Perhatikan kehati-hatian khusus pada huruf Waw (و) dan Faa' (ف) agar tidak menjadi samar.
Laam ma'rifah (ال) — penanda isim — hukumnya ada 2: Qomariyyah dan Syamsiyyah
Laam asli dari struktur kata kerja — dibaca jelas mutlak (kecuali bertemu Ra' atau Laam)
Pada kata sambung: بَلْ، هَلْ
Pada nama benda — dibaca jelas
Pada kata perintah — dibaca jelas
Dibaca jelas (idzhar). Hurufnya 14: إِبْغِ حَجَّكَ وَخَفْ عَقِيمَهُ
Dibaca melebur (idgham) — tertulis tapi tidak terbaca. Hurufnya 14:
Dua huruf yang sama makhraj dan sifatnya (1 huruf diulang). Contoh: ب + ب, ت + ت, ن + ن
Dua huruf yang sama makhrajnya, berbeda sifatnya. Contoh: (ت، د، ط), (ث، ذ، ظ), (ب، م)
Dua huruf yang berdekatan makhraj dan/atau sifatnya. Contoh: ل + ر (وَقُلْ رَبِّ)
Huruf pertama sukun, huruf kedua berharakat → Idgham (menurut riwayat Hafsh)
Kedua huruf berharakat → Idzhar (menurut riwayat Hafsh)
Huruf pertama berharakat, huruf kedua sukun → Idzhar di semua riwayat
Secara bahasa: az-ziyâdah — Tambahan. Secara istilah: memanjangkan suara dengan huruf-huruf mad. Huruf mad ada 3 yaitu: ا، و، ي yang mati.
Yaitu huruf mad yang menjadi struktur asli kata — jika tidak dibaca panjang akan merancukan maknanya. Tidak tergantung pada sebab apapun (hamzah atau sukun).
Syarat: Kasroh sebelum Ya', Dhammah sebelum Waw, Fathah sebelum Alif.
Huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata. Hukum bacaan panjangnya wajib dengan takaran 4 sampai 5 harakat ketika dibaca washal.
Huruf mad bertemu hamzah di dua kata yang terpisah — mad di akhir kata pertama, hamzah di awal kata kedua. Dibaca asli ketika waqaf.
Huruf mad didahului hamzah dan tidak terdapat hamzah atau sukun setelahnya.
Terdapat sukun yang bukan asli setelah huruf mad sebab dibaca waqaf. Boleh dibaca 2, 4, atau 6 harakat.
Sebelum huruf waw atau ya' sukun terdapat huruf berharakat fathah, kemudian setelahnya ada huruf berharakat yang disukunkan karena waqaf.
Terdapat sukun asli setelah huruf mad dalam satu kata atau huruf (terjadi hanya pada awal surat). Hukumnya wajib panjang 6 harakat.
Huruf mad bertemu sukun asli dalam satu kata, tanpa idgham. Contoh: ءَآلْآنَ
Huruf mad bertemu huruf bertasydid dalam satu kata. Contoh: الضَّالِّينَ، آلصَّاخَّةُ
3 huruf di awal surat, huruf tengahnya mad/liin, tidak diidghamkan. Contoh: الر، ق
3 huruf di awal surat, huruf tengahnya mad dan diikuti tasydid. Contoh: الم، طسم
Apabila berkumpul 2 mad, yang diterapkan adalah yang lebih kuat. Apabila berkumpul 2 mad atau lebih dalam satu jenis, wajib menyamakan takarannya.
Secara bahasa: tempat-tempat keluarnya huruf. Secara istilah: tempat-tempat atau letak keluarnya huruf hijaiyah ketika diucapkan. Mempelajarinya sangat penting — kesalahan dalam melafalkan huruf dapat menimbulkan makna berbeda, bahkan jika disengaja bisa menimbulkan kekafiran.
Rongga Mulut — tempat keluarnya 3 huruf mad:
Alif sukun yang didahului harakat fathah — مَالَنَا بَاتَا
Ya' sukun yang didahului harakat kasroh — قِيلَ شَدِيدَ
Waw sukun yang didahului harakat dhammah — قُوْلُوا تُوبُوا
Tenggorokan — terbagi menjadi 3 bagian:
Letak pita suara — huruf Hamzah (ء) dan Haa' (هـ)
Katup tenggorokan — huruf 'Ain (ع) dan Haa' (ح)
Ujung tenggorokan + pangkal lidah — huruf Ghain (غ) dan Kha' (خ)
Lidah — terbagi menjadi 4 bagian utama:
Qaf (ق) — pangkal lidah + langit-langit berdaging
Kaf (ك) — pangkal lidah sedikit maju
Jim (ج), Ya' bukan mad (ي), Syin (ش) — tengah lidah + langit-langit atas
Dhod (ض) — salah satu atau kedua sisi lidah + sisi dalam geraham atas
Lam (ل), Nun (ن), Ra' (ر), Tha' (ط), Dal (د), Ta' (ت), Shad (ص), Siin (س), Zay (ز), Dzal (ذ), Tsa' (ث), Dzho' (ظ)
Dua Bibir — tempat keluarnya 4 huruf:
Ujung gigi seri atas + tengah bibir bawah — فَا فِي فُو بِف
Dua bibir dimonyongkan sempurna, kemudian dibuka — وَاوِيوُو بُو
Dua bibir dirapatkan + gunnah dari rongga hidung — مَا مِي مُو بِم
Dua bibir ditempelkan + dorongan suara yang tertahan — بَا بِي بُو بِب
Pangkal Hidung — tempat keluarnya Ghunnah. Ini adalah sifat tambahan pada Mim dan Nun, bukan huruf tersendiri.
Saat Mim bertasydid atau Mim sukun bertemu dengan Mim atau Baa'
Saat Nun bertasydid, atau Nun sukun pada idgham bigunnah, iqlab, dan ikhfa' haqiqiy
TADRIJIY (تَدْرِيجِيٌّ) dari bahasa Arab artinya Bertahap. Filosofi belajar secara bertahap untuk mendapatkan hasil belajar yang itqon (menguasai), tanpa mengedepankan yang instan atau tergesa-gesa. Metode ini mempermudah dalam menghafal tiap-tiap kosa kata dalam Al-Qur'an, serta memperhatikan kaidah tajwid.
Dapat diterapkan oleh anak-anak maupun dewasa, dengan pendidikan umum maupun agama.
Setiap langkah dijelaskan secara rinci dan terstruktur sehingga mudah diikuti.
Menggunakan pola bacaan yang terulang sehingga hafalan lebih kuat dan melekat.
Menghasilkan hafalan yang kokoh dan benar sesuai kaidah tajwid.
Menghafalkan ayat per-kata sampai benar pengucapannya — dengan cara me-washal-kan akhir huruf kata pertama dengan awal huruf kata kedua menggunakan pola tahajjiy. Dalam langkah ini, santri dapat memahami arti dari setiap kata, mengurangi kesalahan pelafalan, dan menambah pembendaharaan kosa kata Bahasa Arab.
Setelah hafal per-kata, dibagi menjadi beberapa potongan ayat. Setiap potongan dieja lalu disambung secara bertahap hingga ayat tersambung sempurna.
Seluruh potongan ayat disambung menjadi satu ayat penuh dengan tartil dan benar sesuai kaidah tajwid. Ulang minimal 3× sampai hafal dengan lancar.
QS. Al-Baqarah (2): 2
Tabel Arti Per-Kata
Dibaca setelah selesai membaca/mempelajari Al-Qur'an